
Beberapa penyakit jiwa yang umum menyerang manusia belakangan ini, ada baiknya kita ketahui agar bisa memperbaiki diri dan saling mengingatkan ;
MENYALAHKAN ORANG LAIN
Itu penyakit P dan K, yaitu
Primitif dan Kekanak-kanakan. Menyalahkan orang lain adalah pola pikir
orang primitif. Di pedalaman Afrika, kalau ada orang yang sakit, yang
Dipikirkan adalah : Siapa nih yang nyantet ? Selalu “siapa” Bukan “apa”
penyebabnya. Bidang kedokteran modern selalu mencari tahu “apa”
sebabnya, bukan “siapa”. Jadi kalau kita berpikir menyalahkan orang lain, itu sama dengan sikap primitif. Pakai koteka aja deh, nggak usah pakai dasi dan jas. Kekanak-kanakan. Kenapa ?, karena anak-anak selalu nggak pernah mau disalahkan. Kalau ada piring yang
jatuh,” Adik tuh yang salah”, atau ” mbak tuh yang salah”. Anda pakai
celana monyet aja kalau bersikap begitu. Kalau kita manusia yang
berakal dan dewasa selalu akan mencari sebab terjadinya sesuatu.
MENYALAHKAN DIRI SENDIRI
Menyalahkan
diri sendiri bahwa dirinya merasa tidak mampu. Anda pernah mengalaminya
? Kalau anda bilang tidak pernah, berarti anda bohong.”Ah, dia sih
bisa, dia ahli, dia punya jabatan, dia berbakat dsb, Lha saya ini apa
?, wah saya nggak bisa deh. Dia S3, lha saya SMP, wah nggak bisa deh.
Dia punya waktu banyak, saya sibuk, pasti nggak bisa deh”. Penyakit ini
seperti kanker, tambah besar, besar di dalam mental diri sehingga bisa
mencapai “improper guilty feeling”.
Jadi walau yang salah
partner, anak buah, atau bahkan atasan, berani bilang “Saya kok yang
memang salah, tidak mampu dsb”. Penyakit ini pelan-pelan bisa membunuh
kita. Merasa inferior, kita tidak punya kemampuan. Kita sering
membandingkan keberhasilan orang lain dengan kekurangan kita, sehingga
keberhasilan orang lain dianggap Wajar karena mereka punya sesuatu
lebih yang kita tidak punya.
TIDAK PUNYA GOAL / CITA-CITA
Kita
sering terpaku dengan kesibukan kerja, tetapi arahnya tidak jelas.
Sebaiknya kita selalu mempunyai target kerja dengan milestone. Buat
target jangka panjang dan jangka pendek secara tertulis. Ilustrasinya
kayak gini : Ada anjing jago lari yang sombong. Apa sih yang nggak bisa
saya kejar, kuda aja kalah sama saya. Kemudian ada kelinci
lompat-lompat, kiclik, kiclik, kiclik. Temannya bilang: “Nah tuh ada
kelinci, kejar aja”. Dia kejar itu kelinci, wesss…., kelinci lari lebih
kencang, anjingnya ngotot ngejar dan kelinci lari sipat-kuping (sampai
nggak dengar / peduli apa-apa), dan akhirnya nggak terkejar, kelinci
masuk pagar. Anjing kembali lagi ke temannya dan diketawain. “Ah lu,
katanya jago lari, sama kelinci aja nggak bisa kejar. Katanya lu paling kencang”. “Lha dia goalnya untuk tetap hidup sih, survive, lha gua goalnya untuk fun aja sih”. Kalau “GOAL” kita hanya untuk “FUN”, isi waktu aja, ya hasilnya cuma terengah-engah saja.
MEMPUNYAI “GOAL”, TAPI NGAWUR MENCAPAINYA
Biasanya
dialami oleh orang yang tidak “teachable”. Goalnya salah, fokus kita
juga salah, jalannya juga salah, arahnya juga salah. Ilustrasinya kayak
gini : ada pemuda yang terobsesi dengan emas, karena pengaruh tradisi
yang mendewakan emas. Pemuda ini pergi ke
pertokoan dan mengisi karungnya dengan emas dan seenaknya ngeloyor
pergi. Tentu saja ditangkap polisi dan ditanya. Jawabnya : Pokoknya
saya mau emas, saya nggak mau lihat kiri-kanan.
MENGAMBIL JALAN PINTAS, SHORT CUT
Keberhasilan
tidak pernah dilalui dengan jalan pintas. Jalan pintas tidak membawa
orang ke kesuksesan yang sebenarnya, real success, karena tidak
mengikuti proses. Kalau kita menghindari proses, ya nggak matang,
kalaupun matang ya dikarbit. Jadi, tidak ada tuh jalan pintas. Pemain
bulutangkis Indonesia bangun jam 5 pagi, lari keliling Senayan,
melakukan smesh 1000 kali. Itu bukan jalan pintas. Nggak ada orang yang
leha-leha tiap hari pakai sarung, terus tiba-tiba jadi juara bulu
tangkis. Nggak ada ! Kalau anda disuruh taruh
uang 1 juta, dalam 3 minggu jadi 3 juta, masuk akal nggak tuh ? Nggak mungkin !. Karena hal itu melawan kodrat.
MENGAMBIL JALAN TERLALU PANJANG, TERLALU SANTAI
Analoginya
begini : Pesawat terbang untuk bisa take-off, harus mempunyai kecepatan
minimum. Pesawat Boeing 737, untuk dapat take-off, memerlukan kecepatan
minimum 300 km/jam. Kalau kecepatan dia cuma 50 km/jam, ya cuma
ngabis-ngabisin avtur aja,
muter-muter aja. Lha kalau jalannya, runwaynya lurus anda cuma pakai
kecepatan 50 km/jam, ya nggak bisa take-off, malah nyungsep iya. Iya
kan ?
MENGABAIKAN HAL-HAL YANG KECIL
Dia
maunya yang besar-besar, yang heboh, tapi yang kecil-kecil nggak
dikerjain. Dia lupa bahwa struktur bangunan yang besar, pasti ada
komponen yang kecilnya. Maunya yang hebat aja. Mengabaikan hal kecil
aja nggak boleh, apalagi mengabaikan orang kecil.
TERLALU CEPAT MENYERAH
Jangan
berhenti kerja pada masa percobaan 3 bulan. Bukan mengawali dengan yang
salah yang bikin orang gagal, tetapi berhenti pada tempat yang salah.
Mengawali dengan salah bisa diperbaiki, tetapi berhenti di tempat yang
salah repot sekali.
BAYANG BAYANG MASA LALU
Wah
puitis sekali, saya suka sekali dengan yang ini. Karena apa ? Kita
selalu penuh memori kan ? Apa yang kita lakukan, masuk memori kita,
minimal sebagai pertimbangan kita untuk langkah kita berikutnya.
Apalagi kalau kita pernah gagal, nggak berani untuk mencoba lagi. Ini bisa balik lagi ke penyakit nomer-3. Kegagalan sebagai akibat
bayang-bayang masa lalu yang tidak Terselesaikan dengan semestinya. Itu
bayang-bayang negatif. Memori kita kadang- kadang sangat membatasi kita
untuk maju ke depan. Kita kadang-kadang lupa bahwa hidup itu maju
terus. “Waktu” itu maju kan ?. Ada nggak yang punya jam yang jalannya
terbalik ?? Nggak ada kan ? Semuanya maju, hidup itu maju. Lari aja ke
depan, kalaupun harus jatuh, pasti ke depan kok. Orang yang berhasil, pasti pernah gagal. Itu memori negatif yang menghalangi kesuksesan.
MENGHIPNOTIS DIRI DENGAN KESUKSESAN SEMU
Biasa
disebut Pseudo Success Syndrome. Kita dihipnotis dengan itu. Kita kalau
pernah berhasil dengan sukses kecil, terus berhenti, nggak kemana-mana
lagi.Sudah puas dengan sukses kecil tersebut. Napoleon pernah
menyatakan: “Saat yang paling berbahaya datang bersama dengan kemenangan yang besar”. Itu saat yang paling berbahaya, karena
orang lengah, mabuk kemenangan. Jangan terjebak dengan goal-goal hasil
yang kecil, karena kita akan menembak sasaran yang besar, goal yang jauh. Jangan berpuas diri, ntar jadi sombong,terus takabur.