Blog EntryFutuwahApr 19, '07 10:30 PM
for everyone

Semangat Ksatria, pemuda yang tampan dan gagah berani, arti futuwah dalam bahasa indonesianya begitu, sejak zaman dahulu hanya orang-orang pilihan saja yang memiliki sifat ini, pejuang-pejuang mulia, wali-wali bahkan nabi-nabi dan rasul-rasul, khusus untuk nabi-nabi dan rasul-rasul, sejatinya sejak awal memang sudah memiliki fasilitas ini, tapi bukan berarti kita sekarang ini tidak bisa memiliki sifat ini, bisa koq.., jika kita tilik lagi dari kisah-kisah para Nabi dan Rasul, mereka selalu menjadi pioneer dan berani menentang segala sesuatu yang yang dholim dan menegakkan sesuatu yang sebenarnya meskipun nyawa taruhannya.

Futuwah adalah pandangan hidup seorang ksatria (fataa). Dalam Al Qur'an Surat Al Anbiya ayat 60, kata fataa merujuk kepada Nabi Ibrahim A.s  dalam menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaumnya. Dikalangan sufi futuwah kemudian dimaknai sebagai aturan tingkah laku terpuji yang mengikuti teladan nabi, wali, orang-orang bijak serta para shahabat nabi dan kekasih Allah SWT.

Futuwah sebenarnya yakni mengenai makna rasa haru, kasih sayang, cinta, persahabatan, kedermawanan, pengabdian kepentingan pribadi, keramahtamahan, kecerdasan, nyali, kejujuran, kesetiaan dan tindakan-tindakan lain yang sesuai dengan kebajikan-kebajikan tersebut secara non emosional.


Nabi Ibrahim as, sejak kecil adalah seorang yang berani, cerdas dan kritis, pada awal masa mudanya, Ia telah berani menentang kepercayaan bangsa dan rajanya kala itu, sendirian, dengan menghancurkan berhala-berhala sesembahan dan ketika akhirnya Ia harus menjalani hukuman dibakar hidup-hidup, tetap dengan gagah berani Nabi Ibrahim as menjalaninya, meskipun pada saat-saat terakhir datang malaikat menawarkan bantuan, agar Nabi Ibrahim as tidak di bakar, namun dengan tegas Nabi Ibrahim as, mengatakan
" Apakah Allah SWT, memerintahkan mu (malaikat) untuk menyelamatkan aku dari api?"
" Tidak, Nabiyullah"
" Jika demikian, jangan keluarkan saya dari kobaran api ini"
namun, kemudian Nabi Ibrahim diangkat ke atas sebuah gedung yang tinggi lalu dilemparkan ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan kuasa Allah SWT, berfirman "Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim." , maka selamatlah Nabi Ibrahim as dari api itu dan Semangat Ksatria ini pun selalu mewarnai kehidupan pribadi, menjalankan dakwah hingga dalam kehidupan berumah tangga Nabiyullah Ibrahim, selalu menanamkan Semangat Kstaria ini, ingat 'kan?!..cerita Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail di tinggalkan di Mekkah sendirian. Semangat Ksatria itu pun akhirnya dimiliki pula oleh Nabi Ismail, terbukti pada saat Allah SWT memerintahkan untuk di sembelih, Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sangat taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud kedatangannya, untuk menyembelih Nabi Ismail, tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu, agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya, ketiga tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar menringankan penderitaan dan rasa pedihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaian ku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya."

Pada awal masa kerasulan Nabi Muhammad SAW, ketika Rasulullah SAW berdakwah, beliau di lempari kotoran, batu serta di caci maki, hingga akhirnya beliau beristirahat di dekat sebuah kebun anggur, pada saat itu, datanglah Malaikat Jibril, dengan izin Allah SWT, menawarkan kepada Rasulullah SAW, untuk membalas tindakan orang-orang yang telah mendholimi Rasulullah SAW, namun Rasulullah SAW menolak dan mengatakan bahwa sesungguhnya mereka belum mengetahui akan hidayah yang Rasulullah SAW sampaikan dan sebagai utusan Allah SWT sudah selayaknya Rasulullah SAW memberikan contoh yang baik.

Masih banyak lagi teladan-teladan tentang futuwah dari kisah-kisah para Nabi dan Rasul Allah SWT. Sepintas dua kisah teladan tentang futuwah di atas berbeda, sekarang mari kita tela’ah lebih jauh tentang apa arti futuwah sesungguhnya…

Kata al futuwah oleh An-Nasafi dalam tafsirnya didefenisikan sebagai bentuk pencurahan segala kebaikan, menahan atau menghindari hal-hal yang menyakiti dan meninggalkan pengaduan kepada selain Allah swt. Ditambah meninggalkan hal-hal yang haram dan menyambut segera hal-hal yang mulia. Dari definisi ini kandungan ma'nawi lebih nampak dari lahiriah. Pemuda yang lahiriah (material) dan ma`nawiyahnya (spritual) seimbang, merekalah yang paling siap dan interest menerima kebenaran, . Bahkan bukan sebatas menerima kebenaran saja, tetapi umpan baliknya adalah sikap menentang segala penghalang al haq dengan gerakan ishlah (perbaikan). Fenomena al-futuwah ini banyak mewarnai sirah awal da'wah Rasul saw. Tercatat bahwa hampir semua sahabat Rasulullah saw yang pernah membai'at beliau di rumah Al-Arqom bin Arqom, baitul aqobah dan ridwan adalah pemuda.

Yang pasti pemuda mampu membuktikan bahwa mereka unsur pertama dalam setiap perubahan. Mengapa harus pemuda dan mengapa harus pemuda muslim yang menjadi sentral perhatian?? Menjawab dua pertanyaan ini ustazd Fathi Yakan dalam bukunya Al-Syabab wa Al-Taghyir menjelaskan bahwa," Pemuda adalah pemilik cita-cita tinggi, semangat yang menggebu dan juga masa puncak untuk menerima dan memberi." Namun semua ini tidak bernilai apa-apa jika tidak memiliki loyalitas kepada Islam. Karena pemuda merupakan satu wujud bentuk kontribusi Ilahi sekaligus kekuatan yang di fungsikan untuk memakmurkan bumi. Sebaliknya pemuda tanpa Islam akan menjadi bencana yang mengerikan.


Futuwah dan Militansi

Perlu dimengerti, bahwa Futuwah tidak sama dengan Militansi,karena di dalam Semangat Ksatriaan di dalamnya ada juga unsur kasih sayang dan semangat untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, sedangkan milintan arti secara bahasa adalah bersemangat tinggi;berhaluan keras;penuh gairah dan pada dasarnya Militansi adalah suatu ketaatan militerism yang menyandarkan perjuangannya semangat dan kesetiaan namun seringkali tak lebih dari sekedar emosi dan tidak menyandarkan sepenuhnya pada Allah SWT dan Rasulnya, karena sesungguhnya Allah SWT berfirman ;

Mudah-mudahan Allah Menimbulkan Kasih Sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi diantara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Allah tiada Melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil, Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
(QS Al-Mumtahanah:7-9)

Ha ha ha…masih binun?..okeh, ginee..pernah nonton filem jagoan ‘kan?!...simplenya misalnya seorang samurai sejati, yang selalu mengusahakan menegakkan keadilan secara proper, ketika ia harus berperang, ia akan berusaha membela mati-matian terhadap apa yang dianggapnya benar dan apa bila ia harus mengakhiri nyawa seseorang, ia akan mengusahakan bahwa orang tersebut, bahkan tidak merasakan sakit pada saat eksekusinya dan ia melakukannya semata-mata memperjuangkan kebenaran dan keadilan bukan dengan landasan emosional.


Futuwah ≠ Militansi

Spirit of Warriorship a.k.a. Budoshin alias Futuwah = Semangat Ksatria


16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
iwananashaya wrote on Apr 20, '07
Ehm!! kayaknya GUE BANGET nih!!
Hihihihii... GR mulu!! Bukan GR lagi.... Ghurur.. Ghurur...!!

Loh.. kan saya ingin seperti itu.. gitu...
Insya Allah... Amiiin... Allaahumma Amiin...

marveline wrote on Apr 20, '07
Futuwah ≠ spirit of warriorship ≠ militansi
Futuwah = spirit of struggle
kitu sanes ?!
funkybuddha wrote on Apr 20, '07
Futuwah = spirit of struggle
Why would you need to struggle?
ratnaz wrote on Apr 20, '07
Loh.. kan saya ingin seperti itu.. gitu...
Insya Allah... Amiiin... Allaahumma Amiin...
amiin....insyaAllah buat semua jugak ^_^
ratnaz wrote on Apr 20, '07
Futuwah = spirit of struggle
kitu sanes ?!
sanes, 'coz within warriorship u've got more than just struggle there's also spirit, passion, noble deed, idelism reason and love, but struggle ?!....struggle for what?..many people name his struggle merely for himself.
ratnaz wrote on Apr 20, '07
Why would you need to struggle?
inportant Q also great A
funkybuddha wrote on Apr 20, '07
ratnaz said
inportant Q also great A
Exactly...

Maybe there are readers that are not familiar with this concept, and they tend to think when somebody say warrior-ship it is identifiable with war and militancy. Well, can't blame them since a warrior is somebody that is involved in a war. That's why I am a bit reluctant to use such words.

The below journal entry might help:

Budo (武道) - The way of non-aggression

There are also other journal entries in there that may help what Ratna is trying to convey with her writing.
ratnaz wrote on Apr 20, '07
The below journal entry might help:

Budo (武道) - The way of non-aggression

There are also other journal entries in there that may help what Ratna is trying to convey with her writing.
he he...thank's a lot, Senpai ^_^
6483 wrote on Apr 20, '07
:)
klo punya anak, ntar dikasih nama futuwah bole ga ya? supaya punya semangat kesatria gitu
segokepel wrote on Apr 20, '07
seingatku kalo samurai kesetiaannya pada tuannya, bener apa salah diliat dari kesetiannya, jadi kalopun dianggap orang lain salah, misal membunuh dll, buat dia itu benar. so kebenaran dalam jiwa samurai dibatasi oleh kesetiaannya. makanya bergantung ma tuannya.
funkybuddha wrote on Apr 22, '07
seingatku kalo samurai kesetiaannya pada tuannya
Ini benar... mungkin kalau untuk dari sisi agama ini ngga "sreg"... tapi bisa kita ruba persepsi ini... dibanding kesetiaan dengan seorang manusia, atau suatu konsep/sistem (i.e.: "demokrasi"), atau barang... dalam agama kesetiaan dicurahkan kepada Yang Maha Pencipta...

Prinsipnya sudah ada, tinggal teknisnya saja yang perlu dimodifikasi...

Kalau soal bunuh membunuh... mungkin tidak semudah itu melihatnya. Kalau di film2 atau anime2 mungkin seperti itu ya... tapi bagusnya bisa ditelusuri lebih lanjut.

Buku2 untuk pembacaan awal:
Hagakure
Unfettered Mind
Budoshoshinshu <- seluruh bukunya ada di link ini.

Buku2 Tao dan Zen juga bisa membantu mengerti konsep ini...
ratnaz wrote on Apr 22, '07
6483 said
:)
klo punya anak, ntar dikasih nama futuwah bole ga ya? supaya punya semangat kesatria gitu
boleh aja koq mbak....insyaAllah nama yang baguss..^_^
ratnaz wrote on Apr 23, '07
so kebenaran dalam jiwa samurai dibatasi oleh kesetiaannya.
udah terjawabkan?!...he he...
ratnaz wrote on Apr 23, '07
Buku2 untuk pembacaan awal:
Hagakure
Unfettered Mind
Budoshoshinshu <- seluruh bukunya ada di link ini.

Buku2 Tao dan Zen juga bisa membantu mengerti konsep ini...
thank'z for share senpai...^_^
patkhamniaz wrote on Apr 23, '07
trima kasih for sharing, waduuh ngak semua deh ada semangat kesatriaan, tapi kalau hidup bersama satria aku jugak suka hmmmm kamu jugak kan ?!! hehehehe
ratnaz wrote on Apr 23, '07
trima kasih for sharing, waduuh ngak semua deh ada semangat kesatriaan, tapi kalau hidup bersama satria aku jugak suka hmmmm kamu jugak kan ?!! hehehehe
sifat ini bisa dibina n' dipupuk koq, coba aja...hidup b'sama ksatria...ya eyalaah he he...ksatria baja hitam wekeke...^_^
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help